DUNIA INTERNASIONAL

Greenland Resah atas Kembali Menguatnya Wacana Aneksasi oleh Trump

Screenshot 2026-01-14 200017
Ukuran Font
A A 100%

THENUSANTARATODAY.COM | LONDON  — Wacana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menganeksasi atau membeli Greenland kembali memicu keresahan di wilayah otonom Kerajaan Denmark tersebut. Sejumlah pejabat Greenland menyebut pernyataan Trump telah menimbulkan kekhawatiran serius di tengah masyarakat, bahkan berdampak pada kondisi psikologis warga.

Menteri Urusan Bisnis dan Sumber Daya Mineral Greenland, Naaja Nathanielsen, mengatakan bahwa sebagian warga melaporkan mengalami gangguan tidur akibat ketidakpastian yang ditimbulkan oleh retorika tersebut.

“Perdana menteri dan seluruh pimpinan partai politik di Greenland telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa kami tidak memiliki niat untuk menjadi bagian dari Amerika Serikat,” ujar Nathanielsen dalam sebuah acara di parlemen Inggris di London, Selasa (13/1).

Ia menegaskan bahwa meskipun Greenland menjalin kerja sama erat dan menjadi sekutu AS, wilayah itu tidak pernah memandang dirinya sebagai bagian dari Amerika. Menurutnya, pernyataan Trump justru menimbulkan rasa dikhianati di kalangan masyarakat.

“Retorika ini menyinggung dan membingungkan. Selama ini kami tidak melakukan apa pun selain mendukung pandangan bahwa Greenland merupakan bagian dari kepentingan strategis AS, namun bukan untuk dimiliki,” katanya.

Nathanielsen menambahkan bahwa isu aneksasi tersebut telah menjadi pembicaraan luas di tingkat rumah tangga dan menimbulkan kecemasan terhadap masa depan Greenland.

Menanggapi kekhawatiran AS terkait keamanan kawasan Arktik di tengah meningkatnya kehadiran Rusia dan China, Nathanielsen menyatakan bahwa Greenland terbuka terhadap peningkatan kerja sama keamanan, termasuk dengan NATO.

“Kami tidak keberatan dengan pemantauan yang lebih intensif di kawasan Arktik dan pemberian akses yang lebih besar bagi NATO di Greenland,” ujarnya.

Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan dukungan NATO jika terjadi invasi AS, Nathanielsen menilai skenario tersebut akan menandai runtuhnya tatanan hukum internasional.

“Jika satu negara NATO menyerang mitra NATO lainnya, maka pada dasarnya kita semua sedang diserang. Itu akan mencerminkan runtuhnya supremasi hukum dan perjanjian internasional,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertemuan pejabat senior Denmark dan Greenland dengan pemerintah AS di Washington. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Rabu waktu setempat itu akan dihadiri Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, serta Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Greenland selama ini menarik perhatian AS karena posisinya yang strategis di Arktik dan kekayaan sumber daya mineralnya. Namun, dorongan Trump untuk menguasai wilayah tersebut, termasuk pernyataan yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, menuai kecaman luas dari berbagai negara.

Denmark dan Greenland kembali menegaskan bahwa wilayah tersebut tidak untuk dijual dan tetap berada di bawah kedaulatan Denmark. Sementara itu, sejumlah negara Eropa dilaporkan tengah mendiskusikan kemungkinan penempatan pasukan di Greenland guna meredakan kekhawatiran keamanan yang mencuat akibat pernyataan Trump.| M.Akbar |  (ANTARA)