LINTAS NUSANTARA

Ulama Aceh Minta Klarifikasi dan Permintaan Maaf atas Pernyataan Kontroversial Kiai Jateng

1768430720-485×323
Ukuran Font
A A 100%

TNT – ACEH – Pernyataan seorang kiai asal Jawa Tengah (Jateng) yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu permintaan kemerdekaan menuai sorotan tajam dari para ulama. Narasi tersebut dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga melukai perasaan masyarakat Aceh yang tengah berduka dan berjuang bangkit dari dampak bencana banjir bandang dan longsor.

Ulama di Aceh secara tegas menyayangkan pernyataan tersebut. Selain dinilai tidak berdasar, narasi yang disampaikan juga dianggap berpotensi memperkeruh suasana serta memperdalam luka batin masyarakat yang masih berada dalam situasi pemulihan pascabencana.

Hal itu disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Abu Dahlan kepada Beritasatu.com, Rabu (14/1/2026) malam, untuk menanggapi potongan video ceramah KH Ahmad Eko Nuryanto yang viral di media sosial (medsos).

Dalam video yang beredar luas tersebut, KH Ahmad Eko Nuryanto menyebut bencana alam yang melanda Aceh sebagai “laknat” dan mengaitkannya dengan isu Aceh yang disebut-sebut meminta merdeka. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara keagamaan di Grobogan, Jawa Tengah, pada Rabu (7/1/2026).

Abu Dahlan menegaskan, mengaitkan bencana alam dengan isu politik merupakan tindakan yang tidak bijak dan harus disikapi secara sangat hati-hati. Menurutnya, sebelum melontarkan pernyataan sensitif di ruang publik, terlebih yang menyangkut penderitaan masyarakat, seharusnya dilakukan tabayun agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Selain tabayun, seharusnya pelaku bisa melakukan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka atas tuduhannya yang merendahkan martabat masyarakat Aceh,” ujarnya.

Ia menilai, penyebutan bencana banjir di Aceh sebagai “laknat” mencerminkan ketidakpahaman terhadap kondisi riil di lapangan. Abu Dahlan menegaskan tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di wilayah terdampak bencana.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bencana banjir di Aceh tidak dapat disederhanakan sebagai akibat isu politik, apalagi dikaitkan dengan tuntutan kemerdekaan. Menurutnya, persoalan utama justru berkaitan erat dengan krisis ekologi dan kerusakan lingkungan.

“Tidak ada hubungannya antara bencana alam di Aceh dengan kelompok-kelompok yang meminta kemerdekaan. Yang kita lihat sekarang di lokasi banjir adalah hasil bongkahan kayu dan diduga hasil perambahan hutan,” ucapnya.

MPU Abdya menekankan pentingnya pendekatan ilmiah, rasional, dan kemanusiaan dalam memaknai bencana alam. Narasi keagamaan yang keliru serta cenderung menstigmatisasi suatu daerah atau kelompok masyarakat dinilai berbahaya bagi persatuan dan ketenangan sosial.

Sebelumnya, potongan video ceramah KH Ahmad Eko Nuryanto yang dibagikan akun TikTok @habaviralaceh telah ditonton lebih dari 283.000 kali dan menuai beragam reaksi publik.

“Kata Allah, sama. Aceh Kota Serambi Makkah, orang hebat, tetapi Allah beri laknat, hancur itu. Mengapa? Karena ingin merdeka saja,” sebut KH Ahmad Eko Nuryanto.

Pernyataan tersebut memicu polemik dan kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai narasi itu tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memperlebar luka sosial di tengah masyarakat Aceh yang tengah menghadapi dampak bencana alam dan berupaya memulihkan kehidupan mereka. – Sumber Beritasatu